DND#8

Hai Crew!

Digital Nomad Diaries balik lagi dengan cerita jelajah Banyuwangi. Banyuwangi adalah salah satu destinasi dalam listku. Godaan dari banyaknya teman-temanku yang mendaki Kawah Ijen sering kali ada di timeline media sosialku. Berhubung sekarang aku berada di Bali sangat mudah bagiku untuk langsung menyebrang ke Banyuwangi.

Okay perjalanan ini dimulai dari Seminyak, Bali.

31 Oktober 2019

Rencana solo trip kali ini adalah dari Bali ke Banyuwangi lalu sekalian lanjut pulang ke Jakarta dengan kereta. Aku berangkat dari Seminyak ke terminal Ubung dengan Grab. Saat dalam perjalanan aku baru tahu bahwa sejak akhir 2017 bus ke pelabuhan Gilimanuk sudah tidak beroperasi di terminal Ubung. Bus dari Bali sekarang ada di terminal Mengwi. Jika sudah terlanjur ke terminal Ubung ada opsi untuk naik DAMRI ke terminal Mengwi dengan biaya 7 ribu rupiah yang beroperasi di jam tertentu atau lanjut lagi dengan taksi online.

Aku memutuskan untuk lanjut lagi ke terminal Mengwi dengan biaya sekitar 70 ribu rupiah, hampir 10 kali lipat. Sesampainya di terminal Mengwi aku sudah diserbu oleh calo tiket, ini yang selalu menyebalkan. Kamu bisa memilih untuk turun di pelabuhan atau ikut menyeberang hingga ke Banyuwangi kota. Tarifnya mulai dari 50-100 ribu rupiah. Sayangnya aku diberikan tarif yang lebih mahal dibandingkan dengan sepasang turis asing yang naik bersamaku. Kok bisa? Beda calo.

Perjalanan biasanya memakan waktu 4 jam. Namun kenyataannya hari itu memakan waktu hampir 6 jam, itu pun sudah termasuk bonus 1 jam karena perbedaan jam dari Bali ke Banyuwangi. Tips dariku untuk memilih waktu berangkat dan memperkirakan bahwa itu adalah jam sibuk di terminal sehingga tidak lama menunggu bus jalan.

Beberapa minggu sebelumnya aku telah memesan kamar dari tanggal 31 Oktober hingga 5 November 2019. Aku memesan kamar di Quinn Homestay yang juga menyediakan paket tour ke Kawah Ijen. Biaya per malamnya yaitu 70 ribu rupiah dan sewa motor 75 ribu per hari.

Hari itu pihak hostel telah berkomunikasi dan menanyakan jam berapa aku akan tiba. Tidak ada info apa-apa darinya tentang kenyataannya bahwa Kawah Ijen ditutup hingga tanggal 5 November karena kebakaran hutan. Aku sangat kecewa karena tidak adanya info dari pihak homestay yang pastinya tahu tujuanku kesana salah satunya adalah ke Kawah Ijen. Aku pun tidak bisa menyalahkan pihak homestay karena kesalahanku juga yang tidak mencari info sebelum berangkat. Sepasang turis asing yang berada di bus bersamaku juga kecewa ketika mengetahuinya karena tidak banyak destinasi lain yang ada di Banyuwangi.

1 November 2019

Pagi itu aku agak kesulitan untuk menyesuaikan jam tidur, solat dan aktivitas normal warga. Adzan Subuh berkumandang jam 03.40 WIB namun aktivitas warga seperti daerah lainnya di Indonesia yang baru dimulai jam 6 atau 7 pagi. Sepertinya ini adalah bagian yang agak susah untuk mengatur jam tidurku. Entah kenapa juga di homestay yang aku tempati harus mengunci gerbang dan penjaganya pulang ke rumahnya ketika malam hari. Aku merasa seperti tahanan yang hari itu ditinggal di dalam rumah.

Sambil menunggu penjaga datang dan membuka gerbang aku berbincang dengan beberapa turis asing yang menginap disana. Beberapa diantara mereka pun menyatakan bahwa akan langsung menyeberang balik ke Bali karena Kawah Ijen ditutup. Aku menawarkan beberapa destinasi lainnya seperti Taman Nasional Baluran atau pantai namun alasan mereka masuk akal yaitu Taman Nasional punya harga yang tidak rasional untuk turis asing.

Aku pun setuju dan menanyakan hal yang sama juga. Kenapa setiap turis auto dicap punya uang dan diberikan harga 10 kali lipat dari lokal. Bagiku itu tidak adil mungkin karena aku baru menyadari bahwa Josh akan diberikan tarif yang berbeda karena ‘bule’ kecuali dia memiliki KITAS atau KITAP. Entah ini adalah sebuah diskriminasi pada turis asing atau malah sebuah heritage sebagai orang lokal. Menurutku hal ini tidak adil dan tidak sesuai dengan fasilitas yang diberikan. Mungkin aku sebagai orang lokal sudah paham dan memaklumi jika fasilitas umum di tempat seperti itu karena harga tiket murah, namun bagaimana dengan turis asing yang membayar 10-20 kali lipat?

Okay akhirnya setelah gerbang dibuka aku langsung pergi keluar untuk mencari minum dan cemilan. Pagi itu aku memilih De Djawatan, Taman Nasional Alas Purwo dan Pantai Pulau Merah untuk aku kunjungi. Bersama bayanganku alias aku sendiri jam 9 pagi berangkat dari homestay ke De Djawatan. Perjalanan memakan waktu 1 jam tanpa macet.

De Djawatan

De Djawatan adalah hutan Lord of The Rings ala Indonesia. Dihiasi oleh pohon yang menjulang tinggi dan berukuran besar taman ini sukses menarik turis asing maupun lokal. Belum lagi karena pengunjung hanya membayar tiket masuk 5 ribu per orang dan 2 ribu untuk parkir motor. De Djawatan buka pukul 7 pagi hingga 5 sore. Pengunjung disini umumnya untuk berfoto dan berselfie ria. Saranku adalah untuk datang di hari kerja agar tidak ada orang di foto kamu. Kamu juga perlu menyesuaikan jam kedatangan agar pencahayaan dari matahari  yang menyusup ke celah-celah dedaunan cocok.

Disana juga ada restoran, toilet, dan mushola. Aku memilih sarapan dulu di restorannya sebelum hunting foto. Harga makanannya pun sesuai walaupun ada di tempat umum. Seporsi pisang coklat keju bakar dan crispy brokoli sekitar 25 ribu rupiah.

Setelah kenyang aku lanjut memutari hutan ini. Tempat bekas pengelolaan kereta api ini masih dihiasi beberapa gerbong kereta yang dijadikan spot foto. Selain itubeberapa spot pendukung foto seperti ayunan, bangku, bahkan kereta kuda dan kudanya ada disini, Jika kamu solo trip sepertiku tidak usah khawatir karena ada jasa foto untuk mengabadikan kamu di De Djawatan. Satu fotonya ditarifkan 5 ribu rupiah untuk soft copynya.

Restoran
wisat-pisang-bakar
Pisang bakar dan crispy brocoli
hutan-lord-of-king-indonesia
Wisata-de-djawatan

Taman Nasional Alas Purwo

Taman Nasional Alas Purwo berada di bagian Selatan Banyuwangi. Aku menempuh waktu sekitar 1.5 jam dari De Djawatan juga karena terhambat hujan. Walaupun masih terdengar asing dan mistis banyak tempat di dalamnya yang bisa kamu kunjungi. Taman Nasional ini memiliki tempat penetasan semi alami penyu, pengamataan burung air, pura, savanna untuk Banteng, lapangan camping, hutan mangrove, goa, dan pantai. Aku membayar 10 ribu rupiah untuk tiket masuk dan parkir. Mau tau harga untuk turis asing? 150.000 rupiah.

Alas Purwo diartikan sebagai kawitan / purwo yang dipercayai sebagai permulaan penciptaan dunia. Kawasan konservasi ini mewakili ekosistem hutan daratan rendah yang ada di Jawa. Kawasan ini juga dikenal sebagai surga satwa liar di Jawa pada era 1930an karena banyaknya satwa dan kekayaan savananya. Satwa-satwanya dipercayai sebagai perwujudan dari para leluhur.

Beberapa lokasi harus didatangi dengan kendaraan khusus seperti motor trail dan mobil Jeep karena jalanan yang belum mulus. Begitu juga beberapa spot yang harus dengan izin petugas. Menurut papan informasi di Taman Nasional ini pun menyediakan akomodasi penginapan. Taman Nasional ini diisi dengan ragam flora dan fauna eksotis. Beberapa hewan yang aku lihat adalah banteng, monyet ekor panjang, lutung, biawak, dan beragam burung. Mengetahui banyaknya hewan liar aku agak ngeri juga mengitari Taman Nasional ini seorang diri. Aku hanya mengunjungi pura, savanna, dan pantai Pancur. Pura di dalam Taman Nasional ini pun masih aktif digunakan warga untuk ritual, begitu pun goa. Masyarakat sekitar banyak datang untuk meditasi apalagi saat hari-hari tertentu seperti malam 1 suro.

Savana Sadengan telah digunakan untuk menjaga eksitensi banteng sejak tahun 1975. Pembinaan habitat secara intensif juga dilakukan untuk meningkatkan populasi banteng dan menjaga luasaan padang penggembalaan. Pantai Pancur sendiri katanya cukup terkenal untuk surfing, namun entah kenapa ada papan larangan berenang disana. Nyatanya memang ombak di sana cukup tinggi dan menurut penjelasan petugas termasuk berbahaya untuk berenang. Aku mencoba untuk jalan ke hutan mangrove dan tempat kembang biak penyu namun aku gagal karena jalannya yang sulit diakses oleh sepeda motor.

Taman-Nasional-Alas-Purwo
Kondisi jalan utama
Wisata-banyuwangi
Pura Luhur Giri Salaka
savana-sadegan-indonesia
Savana Sadengan
pantai-pancur-banyuwangi
Pantai Pancur

Pantai Pulau Merah

pantai-pulau-murah-banyuwangi

Perjalanan hari itu ditutup oleh senja di Pantai Pulau Merah. Perjalanan dari Taman Nasional Alas Purwo ke Pantai Pulau Merah sekitar 1.5 jam. Tiket masuk dan parkir yaitu 12 ribu rupiah. Pulau Merah adalah bukit dengan tanah berwarna merah yang berada di dekat bibir pantai. Bukit tersebut dapat dikunjungi ketika air surut. Namun sepertinya berjalan di atas permukaan karang yang terekspos ke daratan bukanlah hal yang tepat walaupun dikatakan bahwa terumbu karangnya kebanyakn sudah mati. Aku menyadari masih ada biota laut yang hidup di air yang surut tersebut. Pilihan lainnya kamu bisa surfing atau memandangi matahari terbenam sekitar pukul 5 sore di Banyuwangi. Terakhir aku menyusuri jalanan Banyuwangi selama 2 jam untuk pulang ke homestay.

2 November 2019

taman-nasional-daluran

Hari itu tidak banyak list yang ingin aku lakukan. Pagi hari aku langsung menuju ke Taman Nasional Baluran melihat Savana Bekol dan Pantai Bama saja. Perjalanan sekitar 1.5 jam dengan sepeda motor. Dikenal sebagai Africa van Java, Taman Nasional ini sukses mengundang turis asing walaupun perlu membayar 250an ribu rupiah. Sementara sebagai WNI aku hanya membayar 21 ribu rupiah. Harga ini adalah tarif untuk akhir pekan.

Kejadian epic yang aku tunggu datang, yaitu berpapasan oleh banteng di jalan. Saran dariku jika ingin melihat lebih banyak hewan di padang penggembalaan yaitu untuk datang di pagi atau sore hari dimana hewan biasanya lebih aktif untuk mencari makan. Jika kamu mampir ke Pantai Bama jangan lupa untuk mengamankan barang bawaan karena banyak kera disana. Setelah itu aku kembali ke kota untuk makan siang dan bersantai di salah satu bioskop di Banyuwangi.

pantai-bama-banyuwangi
Pantai Bama

3 November 2019

Aku telah kehabisan ide kemana lagi yang bisa aku kunjungi. Mungkin sebenarnya masih banyak destinasi lainnya yang ada di Banyuwangi sembari menunggu Kawah Ijen dibuka. Namun bagiku terlalu lama jika menunggu Kawah Ijen dibuka. Aku lebih memilih balik dan mengubah tiket kereta menjadi tiket pesawat dari Bali ke Jakarta. Akhirnya pagi harinya aku menyeberang balik ke Bali.

Terakhir

Perjalanan sendiri adalah me time bagiku. Perjalanan sendiri kadang malah lebih berasa. Bukan selalu tentang uang, spot kece, atau teman jalannya, tapi lebih ke arah untuk survive and happy in whatever and wherever condition. Ini adalah rincian biaya jelajah Banyuwangi hanya dari Banyuwangi secara umum diluar Grab ataupun makan:

Homestay 70.000 x 3 malam = 210.000

Motor 75.000 x 2 hari = 150.000

Bensin 20.000 x 3 kali = 60.000

De Djawatan = 7.000

Taman Nasional Alas Purwo = 10.000

Pantai Pulau Merah = 12.000

Taman Nasional baluran = 21.000